WARTAWAN BERTEKNOLOGI INFORMASI
Memasuki tahun 1990, wartawan di sejumlah kantor berita transnasional –terutama Reuters dari Inggris, AFP dari Perancis, DPA dari Jerman, dan AP dari Amerika Serikat– menghadapi kecenderungan baru, yakni mereka lebih dituntut untuk memahami sekaligus menguasai teknologi informasi, lebih beretika, serta tidak meninggalkan logika dalam menjalankan tugasnya.
Kecenderungan baru itu, bagi wartawan, hadirnya berbarengan dengan kemajuan teknologi informasi jaringan komputer kesejagatan yang kemudian dikenal dengan nama Internet alias Cyber-Space alias Superhighway.
Berangkat dari pendekatan keilmuan, teknologi informasi berbasis Internet bukanlah hal baru. Nobert Wiener, matematikawan dari Amerika Serikat, pada tahun 1948 sempat mengemukakan teori tentang Cybernetics (sibernetika) yang beramsumsi bahwa sekumpulan mesin yang saling terkoneksi memiliki tingkat komunikasi seperti halnya makhluk hidup. Bahkan, mereka dihubungkan oleh sejumlah jaringan elektronik dan mekanik yang berfungsi interaktif sebagaimana urat syaraf.
Pendapat Wiener (1884-1964) langsung mendapat banyak cemoohan dari pakar komunikasi. Beberapa di antara mereka menilai, Wiener terlalu berlebihan menempatkan fungsi alat elektronik dan mekanik setingkat dengan makhluk hidup. Ada pula yang berpendapat, “Apakah Wiener ingin menjadi Tuhan? Dan, ia menganggap dirinya sebagai pencipta makhluk yang bernama mesin elektronik dan mekanik.”
Oleh karena itu, teori Wiener tentang sibernetika sempat menghilang untuk waktu yang cukup lama. Banyak pakar komunikasi enggan memahami paham tersebut, atau bisa jadi mereka justru tidak pernah mendengar dan mengetahui tentang sibernetika.
Syukurlah, Webster dalam sejumlah kamusnya -seperti Dictionary of People dan Dictionary and Thesaurus-tidak pernah melupakan nama Nobert Wiener sebagai penemu Cybernetics yang diterjemahkan sebagai studi perbandingan dari komunikasi otomatis dan menekankan fungsi pengawasan dari kehidupan tubuh secara mekanis, serta didukung sistem elektronik.
Anehnya, pendapat Wiener justru banyak mendapat perhatian sejumlah pakar di Rusia yang antara lain dipelopori oleh Vladimir Talmy yang bukunya diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Yelena Saparina dengan titel Cybernetics Within Us terbitan Peace Publisher Moscow, 1952.
Vladimir Talmy berpendapat, sibernetika setidak-tidaknya memerlukan pemahaman dari lima sudut keilmuan, yaitu matematika, logika (filsafat), biologi, komunikasi, dan sistem pengawasan otomatis (fisika).
Dalam proses menyiapkan bukunya, Talmy banyak mewawancarai orang sebagai contoh penelitian pemahaman tentang sibernetika. Akhirnya, ia berasumsi bahwa di antara kalangan akademisi tua dan muda secara umum memiliki pendapat yang sama tentang sibernetika sebagai sibernetika rekayasa (engineering cybernetics) dan sibernetika biologis (biological cybernetics).
Pada perkembangannya kemudian, sejumlah pakar sibernetika di Rusia -kala masih tergabung dalam Uni Soviet- banyak melakukan penelitian tentang aspek komunikasi mesin berurat-syaraf dengan memadukan lima keilmuan seperti dikemukakan Vladimir Talmy. Bahkan, dua pendekatan itulah yang menjadi bagian dalam konsep dasar Sputnik alias satelit telekomunikasi pertama Uni Soviet (dan juga dunia) pada tahun 1957.
Di belahan bumi lainnya, Amerika Serikat yang tidak mau kehilangan muka terhadap kemajuan sistem satelit telekomunikasi Uni Soviet -karena saat itu terjadi Perang Dingin blok Timur dengan blok Barat-langsung membangun jaringan Advanced Research Project Agency (ARPA), yang kemudian berkembang menjadi ARPANet dengan dukungan Departemen Pertahanan.
ARPANet itulah yang menjadi cikal bakal sistem Internet alias sistem jaringan komputer terhubung secara global. Secara mudah, Internet dapat diterjemahkan pula sebagai sekumpulan komputer ibarat urat syaraf manusia. Internet memiliki sistem yang disebut tulang punggung (backbone) yang terhubung dalam satu jaringan sederhana/ringkas menuju bagian terpadu di Internet Service Provider (ISP) alias agen layanan penjualan akses nama dan kode menuju jaringan yang lebih luas lagi.
Karena sistemnya yang saling silang dengan bantuan saluran telepon dan modem -alat pengubah sinyal timbal balik dari pesan berupa data/teks/suara/gambar menjadi elektronis pulsa kembali ke pesan berupa data/teks/suara/gambar–, Internet diibaratkan sebagai jalan tol tingkat tinggi atau Superhigway.
Berangkat dari konsep peristilahan jalan raya bebas hambatan itulah, Internet dalam sajian informasinya memiliki berbagai keragaman seperti halnya kawasan lalu-lintas yang memiliki kawasan hiburan -dalam Internet disebut juga cyberfun–, jaringan gereja Katholik (ChatolicNet), jaringan informasi Islam (IslamNet), jaringan informasi berita media massa dunia (NewsWork) hingga jaringan informasi pornografi (cyberporn).
Selain itu, Internet disebut juga sebagai Cyberspace karena memiliki jaringan komunikasi ibarat di dunia maya. Sedangkan, para pemakai Internet mendapat julukan Netter (pemakai jaringan), Surfer (peselancar/penjelajah), dan sejumlah sebutan nama lainnya.
Kemudian, Internet sebagai hasil temuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dunia informasi kian menemukan jalannya sebagai produk bisnis karena memiliki banyak keunggulan, terutama dari segi efisiensi biaya dan efektivitas penyampaian pesan yang cepat, serta dapat menembus ruang sekaligus waktu. Dalam hal inilah, Internet menemukan kelebihannya sebagai media anti-sensor.
Dunia bisnis informasi yang berkembang didukung oleh persaingan berbagai perusahaan sistem jaringan piranti lunak (software) dan piranti keras (hardware) komputer, pada medio 1996 melahirkan apa yang dikenal sebagai Internet-Intranet-Extranet. Dengan kata lain, Internet secara sistem, manfaat, dan dampaknya semakin meluas sebagai jaringan yang terbuka, eksklusif, atau justru super-eksklusif dengan nilai bisnis.
Bisnis informasi semacam itulah yang sebenarnya sejak awal 1990-an telah menjadi kajian banyak media massa di dunia -dunia pers Indonesia terlihat baru mengincarnya di tahun 1995, sejalan dengan maraknya Internet Service Provider (ISP) nasional-sebagai salah satu peluang menjangkau pasar masyarakat dunia.
Pada dasarnya, Internet, Intranet, dan Extranet tidak memiliki perbedaan yang mendasar dari segi teknik. Hanya saja, ketiga teknologi informasi tersebut memiliki perbedaan dari segi konfigurasi cakupan pemanfaatannya.
Internet lebih bersifat umum, yakni merupakan jaringan komputer global yang menjadi dasar sistem Intranet dan Extranet. Sedangkan, Intranet merupakan konfigurasinya diatur menjadi lebih eksklusif , dan biasanya digunakan oleh satu perusahaan yang menginginkan jaringan komputernya dapat terhubung dengan Internet, namun memiliki pengaman khusus yang biasa disebut firewall agar pihak di luar sistem komputer perusahaan bersangkutan tidak dapat mengetahui kondisi internalnya.
Sementara itu, Extranet sistem dasarnya sama dengan Internet, hanya saja cakupan pemanfaatannya lebih sering digunakan oleh perusahaan multi-nasional yang ingin menerapkan jaringan komputer yang dapat terkoneksi dengan Internet secara luas, tetapi pihak di luar jaringan multi-nasional itu tidak dapat menembusnya.
Dalam media massa, teknologi informasi semacam ini dipadukan sesuai dengan kebutuhan bisnis informasi yang dilayaninya. Sebagai contoh, Kantor Berita Transnasional semacam Reuters, AFP, dan DPA menerapkan Extranet dalam jaringan internalnya, karena masing-masing kantor berita tersebut memiliki cabang mancanegara. Namun, secara eksklusif mereka mengamankan sistem jaringan tersebut (Intranet) agar tidak setiap pemakai Internet yang terbuka dapat menembus sistem internal kantor berita bersangkutan. Hanya saja, sejumlah kantor berita tersebut tetap memiliki tayangan yang dinamakan homepage dalam layanan Internet secara terbuka.
Penempatan konfigurasi cakupan sistem teknologi informasi tersebut secara umum ditentukan oleh visi dan misi organisasi bisnis yang memanfaatkannya. Namun, Internet-Intranet-Extranet memiliki fasilitas dasar yang sama dalam proses pengoperasiannya, antara lain:
1 Electronic Mail (e-mail); yaitu fasilitas pengiriman dan penerimaan surat elektronik yang dilengkapi pula dengan fasilitas “copy carbon” (tembusan), sehingga memungkinkan mengirimkan isi surat yang sama ke beberapa alamat pemakai Internet. Contoh alamat e-mail: priya3rh@telkom.net.id yang artinya pengguna surat elektronik tersebut memilih nama priya3rh yang berlangganan melalui Internet Service Provider (ISP) milik PT Telkom yang berlokasi di Indonesia (id).
2 Mailing List (mailist); yaitu fasilitas seperti e-mail yang menghimpun banyak orang sebagai peserta, sehingga proses pengiriman dan penerimaan surat dapat dilakukan secara massal. Biasanya fasilitas ini digunakan untuk kelompok tertentu, seperti alamat mailist: indonesia-press@itb.ac.id yang artinya mailist tersebut terdiri dari sejumlah anggota peminat masalah pres di Indonesia, dikelola oleh ITB (Institut Teknologi Bandung) yang merupakan akademi pendidikan (ac) yang berlokasi di Indonesia (id).
3 World Wide Web (WWW); yaitu fasilitas tayangan informasi yang biasa disebut homepage yang juga memiliki alamat-alamat khusus (URL=Uniform Resource Locator) berdasarkan nama kelompoknya (domain name). Contoh alamat homepage: http://www.yahoo.com yang artinya tayangan informasi tersebut memilih nama yahoo yang merupakan organisasi komersia/profit (com).
4 File Transfer Protocol (FTP); yaitu fasilitas pengiriman file berupa data/teks/gambar/suara melalui jaringan Internet tanpa adanya perubahan isi dari segi kuantitas maupun kualitas. Proses pengiriman file dapat dilakukan secara otomatis berdasarkan nama menurut alamat e-mail maupun URL.
5 Internet Relay Chat (IRC); yaitu fasilitas yang memungkinkan banyak pengguna Internet berdiskusi secara langsung melalui jaringan komputer mereka. Dengan kata lain, proses chatting (berbincang) ini mirip dengan kegiatan “nge-break”, seperti yang dilakukan melalui sarana radio telekomunikasi yang dilakukan para amatir radio anggota Komunikasi Radio Antar Penduduk (KRAP) dan Organisasi Amatir Radio Republik Indonesia (ORARI).
6 Netsearch atau Search Engine; yaiti fasilitas pencarian informasi dari seluruh jaringan komputer global yang tergabung dalam Internet, sehingga memungkinkan para pengguna Internet memperoleh data apa pun yang mereka inginkan. Sistem pencarian informasi semacam ini memanfaatkan sistem jasa layanan informasi global (WAIS=Wide Area Information Service). Beberapa organisasi yang terkenal dengan layanan WAIS adalah Yahoo (http://www.yahoo.com), Alta Vista (http://www.altavista.com), Infoseek (http://www.infoseek.com), dan Lycos (http://www.lycos.com).
Memasuki abad ke-21, pengguna Internet dapat memanfaatkan berbagai fasilitas di atas berbasis web (web based), sehingga tidak lagi harus menginstal aplikasi khusus untuk masing-masing fungsi lantaran digantikan dengan laman (situs Internet). Misalnya, untuk IRC dapat langsung mengakses ke Meebo (http://www14.meebo.com) atau Agile Messenger yang digunakan melalui telepon seluler “cerdas” (smartphone) dan komputer saku (Personal Digital Assistant/PDA).
Berbagai fasilitas dasar Internet tersebut hingga saat ini memiliki program yang beraneka ragam sesuai dengan layanan yang diberikan oleh Internet Service Provider (ISP) kepada pelanggannya. Dan, ISP yang profesional cenderung akan memberikan fasilitas yang terlengkap bagi pelanggannya, sehingga banyak pula yang memberikan fasilitas tambahan seperti telepon Internet (Telnet), buku iklan elektronik (elektronik yellow pages), pusat dokumentasi pelanggan (Whois), faksimili Internet (Fax-Net), pemeriksa jaringan telepon (Ping), dan layanan informasi terpadu untuk kelompok minat tertentu (Newsgroup).
Dari segi sarana dan prasarana dasar, pemakai Internet memerlukan:
1 Hardware (piranti keras), yaitu berupa peralatan komputer, modem dan saluran telepon.
2 Software (piranti lunak), yaitu berupa sistem operasi komputer, maupun aplikasi yang berfungsimembuka akses Internet. Piranti ini biasanya sudah tersedia dalam program Windows, MacIntosh dan Linux.
3 Brainware (piranti pikir), yaitu kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendayagunakan piranti keras dan lunak. Secara umum kalangan usia produktif (17-60 tahun) dapat mempelajari sistem Internet dasar dalam waktu dua jam pelatihan.
Beranjak dari sejumlah fasilitas yang diberikannya, maka Internet merupakan alternatif yang sangat menarik bagi media massa yang senantiasa mengutamakan unsur kecepatan, keakuratan dan kelengkapan dalam penyebaran berita/informasinya.
Rupert Murdoch sang Raja Surat Kabar sejak awal 1990-an sudah menugasi para redaktur dan wartawannya untuk segera menguasai fasilitas apa saja yang ada di Internet, terutama fasilitas e-mail dan World Wide Web (WWW), yang memungkinkan media massa menerima dan mengirimkan berita secara cepat, murah, dan dapat dipromosikan kepada khalayak tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
Hal serupa juga dilakukan oleh Ted Turner sang pemilik jaringan televisi kabel khusus berita (CNN=Cable News Network), sehingga tayangan informasi CNN bukan sekedar menjadi media elektronika, melainkan berkembang menjadi multimedia massa.
Multimedia massa (mass multimedia)! Inilah kecenderungan baru dalam dunia pers yang dipengaruhi oleh hasil teknologi informasi yang dinamakan Internet. Hal inilah yang membuat setiap media publikasi massa dapat ditayangkan secara komplit dalam bentuk teks, gambar (foto dan video), dan suara yang umpan baliknya dapat pula dilakukan secara langsung (interaktif).
Sejalan dengan kecenderungan semacam itu, wartawan kini tidak lagi dituntut hanya sekedar mencari, membuat, dan mempublikasikan beritanya. Lebih jauh lagi, wartawan dituntut untuk menguasai teknologi informasi terbaru, terutama Internet yang dapat memudahkan proses pekerjaan ideal mereka.
Mengapa harus berteknologi Internet? Hal ini mungkin pertanyaan umum yang sering dilontarkan banyak wartawan. Padahal, jika saja mereka sudah terbiasa memanfaatkan Internet, maka mereka juga akan terbiasa mencari/melacak, menegaskan (konfirmasi), mencari kejelasan (klarifikasi), mengirimkan sampai dengan mempublikasikan karya jurnalistiknya melalui Internet.
Dari kecenderungan semacam itu pula terbentuklah satu sebutan baru di kalangan wartawan, yaitu Cyber-Journalist atau Online-Journalist sebagai sebutan bagi wartawan yang dalam proses kerjanya memanfaatkan fasilitas Internet.
Randy Reddick dan Elliot King dalam buku bertitel Online-Journalist, using Internet and Other Electronic Resources terbitan Harcourt Brace & Company, pada 1995, berpendapat bahwa Internet membawa dampak bagi dunia kewartartawanan, setidak-tidaknya dalam proses pencarian, pembuatan, dan publikasi berita.
“Sekarang ini, Internet berada kira-kira pada tingkat perkembangan telepon di tahun 1890-an. Sambungan ke Internet belum untuk semua orang. Menjalankan Internet tidaklah mudah. Dan, dewasa ini hanya sejumlah wartawan tertentu saja yang memanfaatkannya,” catat Reddick dan King.
Kemudian, mereka menambahkan, “Walaupun demikian, dalam bentuknya yang sekarang pun, Internet sangat berguna karena wartawan dapat melaksanakan tugas utamanya mengumpulkan dan meyampaikan informasi pada khalayak ramai secara lebih mendalam dan efisien.”
Bahkan, William (Bill) Gates sebagai pemilik perusahaan piranti lunak komputer Microsoft pada 26 Mei 1995 -tiga bulan sebelum peluncuran program Windows 95-membuat memo khusus bertitel “Pasang Naik Internet” bagi semua karyawannya.
Satu kutipan singkat dari memo khusus itu adalah: “Sekarang saya menetapkan Internet pada tingkat tertinggi dan terpenting. Dalam tempo ini saya menjelaskan bahwa fokus kita pada Internet mutlak penting bagi setiap bisnis kita.”
Kemudian, Bill Gates saat meluncurkan produk Windows ‘95 sempat mendapat pertanyaan pers tentang siapa target utama dalam proses pengembangan produknya yang berfokus pada Internet?
“Andalah target keberhasilan produk ini. Jika saja saya dapat memuasi kebutuhan teknologi informasi kalangan wartawan yang dikenal sebagai kalangan yang haus untuk mencari, dan pemurah untuk membagikan informasi yang dinamakan berita, maka saya atas nama penduduk dunia akan sangat berbahagia,” jawab Bill Gates.
Oleh karena itu, dunia kewartawanan kini semakin menghadapi fenomena yang menarik dalam upaya mempertahankan keberadaannya sebagai “Ratu Dunia”.
Hanya saja masalahnya, tatkala teknologi informasi sudah menyediakan penemuannya yang bernama Internet siap untuk dimanfaatkan, maka “apakah para wartawan dapat segera menangkap dan mengembangkan peluang yang ada untuk menjadi cyber-journalist?”
(…masih bersambung…)