
Wajah Cyberjournalism –jurnalisme ber-Internet– di Indonesia selama 2008 sulit dipungkiri penuh dengan gejala yang beragam, terutama dalam pemanfaatan teknologi nirkabel.
Istilah teknologi nirkabel generasi ketiga (3rd Generation) mulai berkumandang di sisi kehidupan budaya telekomunikasi di negeri ini menjelang Idul Fitri 1428 atau Lebaran 2007. Saat itu, masyarakat pemudik mulai diiming-imingi budaya baru bernama video call –bertelepon seluler (ponsel) saling cakap, dengar dan pandang sekaligus– yang tentunya harus menggunakan perangkat ponsel jenis baru.
Selama 2008, masyarakat pemanfaat teknologi Internet nirkabel tentu saja semakin dimanjakan dengan perkembangan teknologi berikutnya yang disebut generasi 3,5 berkaitan dengan diterapkannya akses paket data berkecepatan tinggi (High-Speed Downlink Packet Access/HSDPA).
Dengan kata lain, komunitas Internet nirkabel sudah tidak lagi berselancar ala “nyut-nyutan”, tetapi memasuki generasi serba “wus-wus…”
Hanya saja, tidak sedikit kalangan wartawan pemanfaat Internet nirkabel masih mengeluhkan penerapan teknologi 3,5G yang mereka sebut masih setengah hati, dan sebarannya pun masih setengah mati.
Pasalnya, mereka –terutama kalangan wartawan televisi– yang mengharapkan tekologi video streaming bisa diwadahi 3,5G secara “mak nyus” belum lagi berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Memang sih, komunitas cyberjournalist di kota besar Pulau Jawa, apalagi lintas Jakarta-Bandung, sudah lebih dimanjakan. Mereka bisa memperoleh jenis ponsel 3,5G cukup beragam merk dengan berbagai fitur lain.
Namun, bagi mereka di luar lintasan tersebut agaknya bakal kesulitan mendapatkan akses yang memadai. Apalagi, mereka yang di luar Pulau Jawa harus lebih sabar, karena bisa saja mendapatkan ponsel jenis 3,5G yang dimanfaatkan sebatas fasilitas suara dan layanan pesan singkat (Short Message Service/SMS) sekelas ponsel jaman dulu (jadul. Catatan: mungkin tepatnya zadul alias zaman dulu!)
Tetapi, semua memang harus bersabar dan optimistis berhadapan dengan urusan apa pun, apalagi hanya sekadar terapan teknologi informasi.
Bukan apa-apa, 2008 juga ditandai dengan menjamurnya pemanfaatan Blackberry di komunitas tertentu.
Bahkan, semua penyedia layanan (provider) jaringan telekomunikasi bergerak di jalur Global System for Mobile (GSM) bersaing memberikan layanan Blackberry. Sekalipun, sebenarnya hanya satu provider GSM yang memiliki kerjasama langsung dengan provider Blackberry di Amerika Serikat (AS).
Optimisme juga tentunya bakal dinikmati kalangan Cyberjournalist di pada 2009. Hanya saja, mereka juga harus lebih getol menyuarakan kepentingan publik yang belum menikmati akses nirkabel lantaran penerapan kebijakan yang setengah hati, dan penyebaran wilayahnya pun setengah mati.
SELAMAT TAHUN BARU 2009, INSYA ALLAH KITA SEMUA SENANTIASA DALAM KARUNIA-NYA.
(*)
Mohon izin saya link back pak.
Trims infonya
http://www.soppengposonline.co.cc
Oleh: qflee on Februari 26, 2009
at 3:27 am
silakan saja karena web blog ini termasuk cupyleft (non-copyright), namun sebaiknya jika melakukan pengutipan menggunakan url (alamat web artikel secara penuh) sesuai etika cyberjournalism. salam. Tku.
Oleh: priya3rh on Mei 18, 2009
at 4:25 pm